Sabtu, 06 November 2010

Klitikan : Museum, Sekolah, dan Galeri


Dalam beberapa hal, pasar loak atau pasar ”klitikan” tak berbeda dengan mal atau ”hypermarket”. ”Apa saja bisa Anda temukan di sana, asal tahu apa yang dicari,” ujar Abdul Rochim (33).

Kohin, panggilan akrab Abdul Rochim, sudah akrab dengan pasar barang bekas di seputar kawasan Jatinegara, Jakarta Timur, sejak 10 tahun lalu. Awalnya, pria, yang berprofesi sebagai perajin keris ini doyan menjelajah pasar loak untuk ”berburu” keris-keris kuno. ”Setiap pekerjaan lagi longgar, saya pasti nongkrong di pasar loak,” tutur Kohin.

Lama-lama, minatnya berkembang untuk mengoleksi dan kadang memperjualbelikan barang-barang antik setelah melihat transaksi yang terjadi di pasar loak itu. ”Ternyata banyak orang kaya main ke pasar klitikan. Mungkin mereka bosan dengan dunia modern, seperti mal dan diskotek, jadi kembali ke yang tradisional, mencari benda-benda antik di pasar,” kata dia.

Menurut Kohin, banyak kejutan tersimpan di pasar loak. Ia, misalnya, pernah iseng membeli cincin perak bermata batu akik warna merah karena tertarik dengan bentuknya yang bagus. ”Saya beli harga Rp 1,2 juta. Ternyata setelah saya bawa ke seorang ahli, batu akik itu safir merah asli. Sorenya ditawar orang Rp 20 juta, langsung saya lepas,” kenang dia.

Ia juga pernah beli selongsong keris berlapis emas di sebuah pasar loak di Solo. Pedagangnya menyebut emas pelapis itu seberat 20 gram. Kohin yang percaya begitu saja langsung membeli selongsong keris itu dan, setelah ditimbang lagi, ternyata emasnya seberat 110 gram.

Pasar loak pun menjadi semacam ”sekolah” bagi Kohin untuk belajar tentang serba-serbi barang antik. Bagaimana membedakan barang asli dan palsu atau antara barang yang benar-benar tua dengan barang yang usianya belum terlalu kuno. ”Tetapi, SPP-nya ya tidak sedikit. Awalnya pasti sering tertipu juga,” ujar Kohin, yang menyebut kerugian karena tertipu itu sebagai biaya ”sekolah” alias SPP.

Menyimpan artefak

Pasar loak pun bisa berfungsi sebagai museum, yang menyimpan bagian-bagian penting dari sejarah sebuah kota atau bahkan bangsa. Bambang Kusumo Prihandono, pengajar di Jurusan Sosiologi, Universitas Atma Jaya Yogyakarta, berkenalan pertama kali dengan pasar ”klitikan” saat mengikuti lokakarya membahas tentang tragedi tahun 1965.

”Waktu itu, para peserta ditugasi mencari artefak-artefak yang berkaitan dengan 1965. Beberapa teman masuk ke pasar klitikan dan menemukan di sana masih ada benda-benda dari era 1965 yang memiliki nilai sejarah penting, misalnya kaset lagu ’Genjer-Genjer’,” papar Bambang yang sejak itu fokus mengamati pasar ”klitikan” sebagai bagian dari budaya urban.

Waladi Samsi (66), seorang pensiunan yang tinggal di Depok, mengaku selalu merasa ada yang kurang jika tidak menyambangi pasar loak di dekat rumahnya dalam seminggu. ”Padahal, tempatnya ya kumuh, di pinggir rel yang becek, tetapi ada keasyikan tersendiri saat berada di sana,” tutur Samsi yang pernah menjelajah pasar klitikan hingga ke Kroya dan Kebumen, Jawa Tengah.

Budiarto Danujaya, wartawan dan pengajar di Departemen Filsafat UI, yang juga kolektor barang antik, mengaku selalu mengunjungi pasar loak di mana pun ia berada, termasuk saat di luar negeri. Budiarto mengaku sering mendapat barang bagus bernilai tinggi di pasar-pasar ”klitikan” itu. ”Harganya pasti jauh lebih murah daripada di galeri antik,” ungkap dia.

Ia, misalnya, pernah membeli sepasang keramik antik bergambar Dewa Perang dari China dengan harga Rp 80.000 di pasar loak di dekat rumahnya di kawasan Bumi Serpong Damai, Tangerang. ”Kalau di galeri, harganya bisa di atas Rp 1 juta,” tutur Budiarto.

Pernah juga saat di Australia, ia melihat satu set peralatan makan keramik kuno dari Jepang yang ditawarkan di sebuah flea market hanya dengan harga 50 dollar Australia (sekitar Rp 400.000). Budiarto batal membeli keramik itu karena membayangkan kerepotan saat membawanya di pesawat.

”Setelah saya kembali ke Jakarta, ternyata piring dengan merek sama dalam kondisi baru saja dijual dengan harga Rp 28 juta. Saya langsung telepon anak saya yang masih di Australia untuk membeli piring itu dan mengirimkannya ke sini,” kenang dia.

Dari : cetak.kompas.com
Gambar dari : sepeda.wordpress.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar